Sabtu, 30 Maret 2013

Tujuan Keuangan


Dalam buku “7 Habits of Highly Efective People”, Steven R. Covey menyebutkan bahwa salah satu kebiasaan orang yang efektif adalah “Memulai dari Akhir”. Kebiasaan ini juga kita terapkan untuk perencaaan keuangan kita. 
Sejak tahap pertama kali merencanakan keuangan, kita harus menentukan apa sih tujuan terakhir yang kita inginkan dari uang kita.

Apa saja sih tujuan keuangan? Berikut adalah tujuan-tujuan keuangan jangka panjang:

1. Dana untuk membiayai pensiun dengan gaya hidup yang diinginkan.
2. Dana untuk membiayai pendidikan anak.
3. Perlindungan keluarga dari resiko finansial.
4. Warisan untuk anak.
5. Penghematan pajak.

Selain itu, juga ada tujuan-tujuan keuangan untuk jangka pendek, seperti:
1. Membeli asset seperti rumah, mobil, elektronik, dan lain-lain.
2. Rencana liburan akhir tahun.

Ingat, kita harus SMART dalam menentukan tujuan keuangan kita. SpesifikMeasurableAchievableRealistik dan Time-Frame.

1. Spesifik artinya kita harus dapat membayangkan tujuan kita secara detail. Misalkan untuk dana pendidikan anak, kita harus sudah dapat memperkirakan ke universitas mana anak kita akan mengambil gelar sarjana. Untuk dana pensiun kita harus sudah dapat membayangkan bagaimana kehidupan yang kita inginkan pada saat kita tua nanti.

2. Measurable artinya dapat diukur, dalam hal ini alat ukurnya adalah mata uang. Misalkan saja kita ingin membuat rencana untuk liburan akhir tahun, kita harus memperkirakan berapa banyak uang yang akan dibutuhkan untuk liburan kita nanti.

3. Achievable berarti dapat kita capai. Agar tidak menjadi pungguk yang merindukan bulan, sebaiknya tujuan keuangan disesuaikan dengan kemampuan keuangan kita.

4. Realitik berarti tujuan kita masuk akal, bukan merupakan khayalan yang tidak dapat diwujudkan dalam dunia nyata.

5. Time Frame berarti kita harus memiliki jangka waktu yang jelas untuk mencapainya. Misalkan saja untuk dana pendidikan anak, kita harus tahu jelas kapan sang anak akan masuk ke universitas. Untuk rencana pensiun kita harus tahu pada umur berapa kita akan pensiun.

Tuliskanlah tujuan-tujuan keuangan yang Anda inginkan pada kertas, dan kemudian baca kembali tulisan Anda. Beri nomor urut pada tujuan-tujuan tersebut berdasarkan hal mana yang paling penting untuk Anda. Misalkan Anda menganggap anak Anda paling berharga untuk Anda, mungkin saja Anda memberikan nomor satu untuk dana pendidikan anak, kemudian nomor dua untuk perlindungan keluarga dari resiko finansial.

Mengapa perlu memberi nomor urut pada tujuan finansial? Karena keterbatasan pendapatan, ada kemungkinan kita TIDAK BISA mewujudkan seluruh tujuan finansial kita. Jadi kita hanya bisa memilih tujuan mana yang paling penting untuk kita. Untuk itulah gunanya nomor urut. Nantinya dalam membuat rencana, kita akan memulai dari tujuan yang paling penting. Tujuan dengan nomor urut satu. Setelah rencana untuk tujuan pertama ini bisa tercapai, dan masih ada uang tersisa, baru kita membuat rencana untuk tujuan kedua. Dan begitu seterusnya.

Jumat, 29 Maret 2013

Tahapan Perencana Keuangan


Siapa sih yang tidak mau hidup sejahtera, terbebas dari masalah keuangan? 
Hal ini dapat Anda capai melalui perencanaan keuangan.

Bagaimana caranya? Ada 5 tahap penting yang perlu Anda lakukan dalam perencanaan keuangan, yaitu:

1. Menentukan Tujuan Keuangan.
2. Menganalisa Kondisi Keuangan Sekarang.
3. Membuat Rencana Keuangan.
4. Melakukan Implementasi Dari Rencana Keuangan.
5. Monitor dan Evaluasi Berkala.

Masing-masing tahap akan saya bahas dalam artikel yang terpisah. Dalam kesempatan ini saya akan membahas secara detail mengenai tahap pertama.


Apa itu Proteksi?


Proteksi adalah bagian penting dalam sebuah Rencana Keuangan. 

Ada 4 kondisi yang perlu Anda pastikan memiliki proteksi yaitu : saat kehilangan penghasilan karena pemberi nafkah utama meninggal dunia, saat mengalami sakit, saat tidak dapat bekerja lagi karena kecelakaan berat dan saat tidak dapat bekerja lagi karena terkena penyakit kritis.

Fungsi asuransi adalah sebagai proteksi nilai finansial Anda jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.

Di bawah ini adalah Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa yang memiliki asumsi sbb:

  • Jika terjadi meninggal dunia pada pemberi nafkah utama keluarga, akan keluar sejumlah dana berupa Uang Pertanggungan dari polis Asuransi Jiwa.
  • Para beneficiary memiliki pengetahuan yang cukup untuk menempatkan Uang Pertanggungan ini ke dalam sebuah produk keuangan / investasi.
  • Saat Uang Pertanggungan ini keluar, para beneficiary akan menempatkan dana pada sebuah produk yang memberikan hasil investasi sedemikian rupa sehingga dapat menggantikan Penghasilan Bulanan pemberi nafkah utama keluarga yang telah meninggal dunia.
sumber: dari berbagai sumber

Wahyudi, SE, RFP
Financial Planner Consultant
E: wahyudiyuka@gmail.com